We Love Bali, Konservasi Penyu berbasis protokol kesehatan kerjasama dengan Kemenpar

423 0

PULAU SERANGAN – Pulau kecil di selatan Denpasar ini menyimpan kekayaan tersembunyi berupa kuliner ikan asap, wisata religi di Pura Dalem Sakenan, wisata sejarah di Kampung Bugis, serta konservasi penyu. Salah satu yang cukup menarik bagi pecinta lingkungan adalah berkunjung ke Turtle Education and Conservation Center (TCEC) yang beralamat di Jalan Tukad Wisata No. 4, Kelurahan Serangan, Denpasar.

TCEC merupakan wahana konservasi yang diprakarsai oleh sejumlah tokoh pelestarian lingkungan di Bali, WWF, dan Pemerintah Provinsi Bali. Pilot project tempat ini dimulai pada tahun 1982, atas prakarsa antara lain Menteri Riset dan Teknologi ketika itu, B.J. Habibie.

Di pusat penangkaran atau konservasi penyu di pulau Serangan Denpasar ini, ada sebuah tempat segi empat yang dipagari batang bambu, tempat pengelola meletakkan telur-telur penyu, pada bagian lainnya terdapat kolam eksebisi, pengunjung dapat menyaksikan yang sudah dewasa, pada sisi sebelah barat terdapat beberapa buah kolam berukuran sekitar 8 meter persegi menjadi tempat pembesaran tukik, terdapat juga beberapa ekor penyu dewasa.

Di kolam ini pengunjung bisa menyaksikan kura-kura laut tersebut dengan lebih maksimal dari yang masih berupa tukik sampai penyu berumur puluhan tahun. Jika anda beruntung saat tour dan berkunjung ke tempat konservasi ini, anda bisa juga ikut melepas tukik tersebut kembali ke laut, sehingga akan menjadi pengalaman liburan yang unik dan berbeda.

Di dunia sendiri ada 7 jenis spesies penyu yang hidup, di Indonesia terdapat 6 jenis dan Bali sendiri di pusat konservasi TCEC Serangan ada 3 jenis penyu yang dikonservasi yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea).

Semuanya hampir punah, sehingga badan konservasi di pulau Serangan ini termasuk pusat konservasi di Tanjung Benoa Badung, memiliki peranan penting menjaga keberadaan agar bisa berkembang dengan baik dan melindungi dari kepunahan.

Yang cukup menarik di penangkaran penyu pulau Serangan ini adalah adalah Penyu Hijau, alasan nama tersebut bukan karena warna cangkangnya berwarna hijau, tetapi karena lemak tubuhnya berwarna hijau. Jenis kura-kura laut tersebut memiliki kontur cangkang bersisik dan bertekstur halus berwarna cokelat atau olive.
Kura-kura laut tersebut bobotnya bisa mencapai 300 kg menjadi spesies terbesar di dunia. Kepalanya kecil tidak bisa masuk ke dalam cangkangnya. Yang jantan memiliki tubuh lebih besar dan ekor lebih panjang dari pada betina. Spesies penyu ini hampir punah dan langka, sehingga wajib dilindungi.

Terkait usaha pariwisata di masa pandemi yang membutuhkan protokol covid-19 yang baik, TCEC beserta pemerintah daerah Bali melalui Tim Percepatan Pemulihan Pariwisata Bali menjalankan program We Love Bali yang didukung dan dibiayai penuh oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf).

Menurut Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Event Kemenparekraf, Rizki Handayani, We Love Bali adalah kegiatan yang mengundang masyarakat untuk berlibur dan menikmati daya tarik wisata Bali.

“Tapi tidak hanya itu, melalui We Love Bali, kita sekaligus memperkenalkan dan mengedukasi penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE yaitu cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment friendly (ramah lingkungan),” tuturnya, Jumat (4/12/2020).

Dijelaskannya, implementasi penerapan CHSE melalui program ‘We Love Bali’ ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif termasuk hotel, usaha perjalanan wisata, usaha transport, pemandu wisata, restoran, daerah tujuan wisata, UMKM, dan lainnya.

I Made Sukante, ketua pengelola TCEC mengatakan ‘saat pandemi kunjungan sampai 0.1%, setelah adanya program we love bali dari Kemenpar membantu kegiatan kami yang mencakup di seluruh Bali, program ini sudah yang ke 23 kalau tidak salah hampir 2,5 bulan ini. Harapan kedepan dari program ini yaitu ikut mempromosikan wisata konservasi di seluruh Bali untuk membangkitkan wisata bali yang baru sesuai protokol kesehatan.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *