Workshop dan Fieldtrip: Penguatan Kelembagaan dan Pemberdayaan Koperasi dan UKM Kelapa Sawit, Mamuju 18-22 November 2019

16 0

Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, manajemen usaha yang meliputi produksi, ketenagakerjaan, keuangan, dan pembiyaan menjadi isu yang sangat penting agar pelaku usaha dapat menghasilkan produk seefisien mungkin. Tidak terkecuali bagi para pelaku UKM di sektor kelapa sawit, para pelaku juga diharapkan dapat mengembangkan usaha alternatif di sela kegiatan perkebunan dan di antara periode masa tanam dan masa panen, sehingga dapat meningkatkan produktifitas dan pendapatan.

Untuk itu, UKM Center FEB UI yang didukung sepenuhnya oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Kementerian Keuangan Republik Indonesia, mengadakan kegiatan Workshop dan Fieldtrip: Penguatan Kelembagaan dan Pemberdayaan Koperasi dan UKM Kelapa Sawit. Kegiatan ini berlangsung pada 18-22 November 2019 di Hotel Grand Maleo, Mamuju, Sulawesi Barat. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesiapan para pelaku UKM dan Koperasi di industri kelapa sawit Indonesia, dalam mengakses pasar yang lebih besar sehingga dapat meningkatkan kontribusi dari industri kelapa sawit terhadap indikator perekonomian, seperti pertumbuhan ekonomi dan kinerja ekspor dan impor, dengan cara memberikan pengetahuan dan pengalaman bersama akademisi, regulator, dan pelaku usaha yang sudah sukses. Selain itu, workshop ini juga bertujuan untuk menyebarluaskan penguatan kelembagaan yang tidak hanya berfokus pada daerah Jawa dan Sumatera. Workshop ini dihadiri oleh perwakilan dari beberapa pelaku UMKM dan koperasi di sektor kelapa sawit yang berlokasi di Provinsi Sulawesi Barat dan disambut oleh Bapak Andi Kasruddin sebagai Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Sulawesi Barat.

Untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan di atas, kegiatan ini menghadirkan Permata Wulandari, Ph.D dan Ida Ayu Agung Faradynawati, S.E. M.Sc., keduanya merupakan dosen dari Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Pada sesi tersebut, peserta workshop mendapatkan kesempatan untuk menggali potensi kewirausahaan dari dalam diri sendiri, dukungan kesempatan dari faktor eksternal, juga metode-metode manajemen usaha dan pemasaran. Peserta juga mendapatkan testimoni dari para pengusaha UKM yang telah berhasil mengembangkan usahanya melalui media daring.

Selain sesi di atas, Dr. Nining I. Soesilo (Dewan Pengawas LDPB Kementerian Koperasi dan UKM) yang juga bertindak sebagai narasumber menggambarkan bahwa secara umum, tren saat ini menunjukkan akses pembiayaan UMKM di Indonesia mayoritas bertumpu pada sektor perbankan. Berbagai bentuk kredit program telah diluncurkan pemerintah sejak lama, dan yang terakhir adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Padahal potensi pembiayaan UMKM di Indonesia masih terbuka luas dan belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendorong UMKM naik kelas. Pemanfaatan pembiayaan melalui sektor non-perbankan (koperasi, leasing, factoring, gadai, pasar modal) dan jenis-jenis pembiayaan non-kredit (hibah, equity, asuransi, anjak piutang) masih dimungkinkan untuk memberikan aksesibilitas pembiayaan bagi UMKM di Indonesia. Selain itu, Dr. Nining juga mendorong UMKM di sektor kelapa sawit untuk mengajukan pembiayaan yang disediakan oleh BPDP Sawit sebagai salah satu sumber pendanaan. Isu ini turut didukung oleh penjelasan tentang skema pembiyaan peremajaan (replanting) yang disampaikan oleh Ibu Ira sebagai perwakilan dari BPDP Kelapa Sawit. Replanting tidak hanya penting bagi petani, tetapi juga bagi industri sawit nasional. Untuk mendukung pelaksanaan replanting kebun kelapa sawit, pemerintah telah menghimpun dana pungutan ekspor CPO yang dikelola oleh BPDPKS serta didukung oleh kredit dari perbankan. Sejauh ini, BPDPKS turut membantu pembiayaan dengan menyalurkan dana Rp25 juta per hektare, selain juga didanai oleh perbankan nasional.

Menutup kegiatan di pesisir pantai Manakarra ini, peserta mengikuti sharing session dan fieldtrip ke pelaku usaha sukses. Pelaku usaha yang dihadirkan adalah Ibu Husna, salah satu penggiat UKM di sektor makanan ringan khas Sulawesi Barat di Kota Mamuju. Ibu Husna memberikan kiat-kiat secara konkrit bagaimana memulai usaha, mempertahankan dan menjalankan usaha, hingga mengembangkan usaha dari hanya keripik menjadi aneka penganan lainnya. Selanjutnya peserta mengikuti fieldtrip ke lokasi usaha Ibu Husna untuk melihat proses produksi aneka penganan secara langsung di rumah produksi tersebut.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *