Wujudkan Quality Tourism Dunia, Sulawesi Tenggara Up Grade Destinasinya

109 0

KENDARI – Pasar quality tourism dunia terus diwujudkan oleh Sulawesi Tenggara. Destinasi wisatanya di-up grade untuk menaikan standar kualitas dan daya tawar pasarnya. Sinergi lintas stakeholder pun dikembangkan masif antara pusat dan daerah, Jumat (13/3). Lokasinya berada di Kantor Dispar Provinsi Sulawesi Tengara (Sultra), Kendari. Kolaborasi juga diikuti peninjauan lapangan secara langsung.

Menaikan standardisasi destinasi wisata kelas dunia, pertemuan digelar Kemenparekraf/Baparekraf dan stakeholder pariwisata di Sultra. Momentumnya memanfaatkan Pertemuan Kepala Dinas Pariwisata se-Sultra, Jumat (13/4). Sebagai keynote speaker ditunjuk Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Wawan Gunawan.

“Sultra tetap memiliki komitmen besar memajukan pariwisata. Kami saat ini ingin mewujudkan quality tourism secara menyeluruh. Untuk itu, sinergi dilakukan antara daerah dan pusat. Sultra punya potensi sangat besar dengan beragam atraksinya. Kami optimistis target akan terwujud dalam waktu dekat,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sultra I Gede Panca.

Pariwisata tetap menjadi core bisnis bagi Sultra. Program prioritas pariwisata dipilih bersama sektor pertanian dan perikanan. Untuk menaikan branding, Sultra memiliki event dengan status Calendar of Event 2020 melalui Festival Budaya Tua Buton dan Wakatobi Wave. Komposisi atraksinya pun semakin beragam dengan penambahan jumlah Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN).

Melalui surat usulan gubernur, Sultra meluaskan status KPPN jadi 7 spot. Sebut saja Kendari, Wakatobi, Pulau Buton, Bau-Bau, dan Pulau Muna. Ada juga Rawaaopa-Watumuhae, Mekongga, dan Toronipa-Labengki. Sebelumnya mereka hanya memiliki 4 KPPN. Komposisinya, Kendari, Bau-Bau, Wakatobi, dan KPPN Rawaaopa-Watumuhae. Komposisi alamnya lengkap dengan pengembangan kawasan wisata Pantai Toronipa menjadi berstandar internasional. Area ini juga menjadi hub bagi destinasi lainnya.

Selain alam, destinasi Sultra juga kaya destinasi budaya dan man made. Destinasi buatannya diantaranya Masjid Al Alam di teluk Kendari. Diresmikan 17 Oktober 2010, Masjid Al Alam diplot sebagai destinasi wisata religi kelas dunia. Destinasi tersebut memiliki banyak Calendar of Event Religi. Fisiknya terus berkembang dengan pemasangan lighting, payung artistik, hingga beragam spot yang instagramable.

“Pariwisata akan memberikan impact positif semakin besar bagi masyarakat Sultra. Pengembangan bagi banyak aspek dilakukan di sana. Yang jelas, ada banyak warna destinasi yang bisa dinikmati wisatawan ketika berkunjung ke Sultra,” tegas Panca.

Memberikan bukti kualitas destinasi, sinergi Kemenparekraf/Baparekraf dan stakeholder Sultra berlanjut di lapangan. Mereka meninjau perkembangan pembangunan destinasi wisata terpadu Pantai Toronipa. Spot berikutnya yang dilihat adalah Pulau Bokori. Selain eksotisnya alam, destinasi Pulau Bokori memiliki fasilitas lengkap. Fasilitas fisik didestinasi ini dikembangkan juga melalui sumber anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK).

“Progress destinasi wisata yang dimiliki Sultra sangat bagus. Kemajuannya signifikan. Dengan adanya komitmen besar ini, Sultra akan tumbuh sebagai destinasi pilihan utama wisatawan dunia. Potensinya memang luar biasa. Semuanya sangat eksotis,” terang Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Wawan Gunawan.

Meski dikaruniai alam, Wawan pun tetap mengingatkan agar Sultra terus mengeksplorasi potensi yang dimilikinya. Sebab, Sultra memiliki peluang besar mengembangkan ekonomi kreatif dan aneka kearifan lokalnya. Sebut saja, Tenun dan Perhiasan. Produk itu tetap memerlukan pendampingan bagi desainnya, pengemasan, dan pemasarannya. Artinya, lebih lanjut perlu dibangun sentra kreatif atau distrik kreatif.

“Inovasi-inovasi baru produk pendamping tetap harus ditawarkan pada pasar. Dengan begitu, destinasi wisata di Sultra akan selalu fresh. Wisatawan pasti akan semakin tertarik berkunjung, lalu jumlahnya ikut naik signifikan dari waktu ke waktu. Untuk itu, kami akan memberikan dukungan penuh kepada mereka,” jelas Wawan lagi.

Lebih lanjut, destinasi Sultra juga harus menjamin kenyamanan infrastrukturnya. Toilet plus air bersih, sistem pengelolaan sampah, hingga instalasi gas, listrik, dan komunikasi berstandar internasional. Selain fisik, kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) destinasi Sultra pun harus ditingkatkan. Kapasitas SDM didorong melalui edukasi, pemberdayaan, dan pendampingan masyarakat.

Bagaimana dengan teknis pemasarannya? Wawan berharap destinasi Sultra memanfaatkan teknologi. Marketing bisa dilakukan melalui beragam paltform media sosial yang ada. Agar makin efektif, potensi influencer atau endorser juga harus digunakan. “Apapun upaya yang dilakukannya, akan mendatangkan banyak manfaat. Pariwisata di Sultra akan terus tumbuh dan berkembang,” tutup Wawan.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *