Ada Penyambutan Adat Istimewa di Sela Launching Homepod Liang Ndara

132 0

LIANG NDARA – Liang Ndara di Labuan Bajo, NTT, punya style elegan dalam menyambut launching homepod, Jumat (20/9). Sejak Kamis (19/9) malam, ada ritual adat yang sudah disiapkan. Semua dihadirkan dalam balutan adat penyambutan yang dinamakan Kapu.

“Selamat datang rombongan Kementerian Pariwisata. Kami persembahkan Kapu, adat penyambutan khas Liang Ndara sebelum launching homepod di desa kami,” tutur Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) liang Ndara, Christo Nisun, Kamis (19/9) malam.

Kamis malam, tim pengembangan Destinasi Regional III Kementerian Pariwisata memang diundang khusus untuk datang ke Liang Ndara. Maksud dan tujuannya baik. Semua diajak meminta restu kepada Tuhan dan leluhur Liang Ndara. Tim Pengembanhan Destinasi Regional III diundang bersama dengan Direktur Destinasi BOP Labuan Bajo Flores.

Penyambutannya sangat kental dengan balutan tradisi Liang Ndara. Dari mulai pakaian adat, prosesi, sampai kuliner yang disajikan, semua khas Liang Ndara.

Yang membuat rombongan Kemenpar happy, prosesinya mengarah ke keberkahan. Saat ritual pemotongan ayam, darah yang mengalir di piring mengental. Dalam kepercayaan masyarakat Liang Ndara, itu pertanda baik.

“Inj bermakna solid. Bagus. Direstui Tuhan dan leluhur. Dalam keseharian masyarakat Liang Ndara memang seperti ini. Selalu menjunjung tinggi adat. Ini daya tarik desa kami. Alhamdulillah ini membawa banyak keberkahan. Desa kami jadi banyak dikunjungi turis asing,” timpal
Ketua adat Liang Ndara, Baselius Baru.

Dari data desa, kunjungan wisatawan mancanegara ke Liang Ndara memang cukup fantastis. Angkanya menembus 1466 wisatawan per sanggar. Keberkahan langsung mengalir ke Liang Ndara. Dari kunjungan wisman dan wisnus tadi, Liang Ndara sudah bisa meraup nominal Rp 151 juta per sanggar. “Itu baru dari periode Januari sampai Agustus saja. Kebanyakan datang dari Australia, Singapura, Prancis dan Amerika Serikat,” timpal Kepala Desa Liang Ndara, Carolus Vitalis.

Length of Stay-nya juga panjang. Rata-rata di atas 14 hari. Itulah yang membuat spending wisnan mengalir tak habis-habisnya ke Liang Ndara. “Rata-rata penduduk Liang Ndara memanfaatkan rumah untuk dijadikan homestay. Awalnya kami kira nggak ada yang betah. Ternyata sebaliknya. Malah ada turis Prancis yang menyewa homestay sampai satu tahun,” tambahnya.

Asdep Pengembangan Destinasi Wisata Regional III Kementerian Pariwisata Harwan Ekon Cahyo tak meragukan kreasi masyarakat Liang Ndara yang sarat dengan nilai-nilai budaya. “Saya percaya Liang Ndara itu jagoannya. Gudang seniman, lautan kreatif di sana. Financial value dan Creative valuenya luar biasa.,” ujarnya.

Menpar Arief Yahya juga seirama, budaya menjadi salah satu alasan wisatawan mau liburan ke suatu daerah. Karena itu budaya harus dilestarikan mengingat memiliki nilai ekonomis. “Laku dijual untuk turis mancanegara,” ungkap Arief Yahya.

Untuk itu Arief Yahya mendorong agar para penggiat kebudayaan mampu menghasilkan daya kreasi yang bernilai komersil tinggi. Dengan demikian masyarakat bisa mendapatkan suguhan gerak tari yang berkualitas. “Yang terpenting, budaya harus terus dilestarikan. Semakin dilestarikan, akan makin mensejahterakan,” tambahnya.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *